Menggugah Kesadaran Lewat Pesta Babi: Diskusi Hangat di Easy Coffee Timika Soroti Masa Depan Tanah Papua

Timika – Suasana Easy Coffee & Eatery di Jalan Malcon, Timika, tampak berbeda pada Jumat (10/4). Puluhan warga, pegiat komunitas, hingga aktivis lingkungan berkumpul dalam sebuah kegiatan bertajuk “Layar Tancap” yang menghadirkan pemutaran film dokumenter Pesta Babi sekaligus diskusi terbuka mengenai isu lingkungan dan hak masyarakat adat di Tanah Papua.

Kegiatan ini diinisiasi oleh Singgah Baca bersama Eastworks Creative, Lepemawi Timika, dan Greenpeace Indonesia sebagai upaya membangun ruang dialog yang sehat dan inklusif bagi masyarakat. Melalui pendekatan sinema dan diskusi, acara ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran publik terhadap kondisi ekologis yang tengah dihadapi Papua, sekaligus memperkuat pemahaman mengenai pentingnya perlindungan hak-hak masyarakat adat.

Diskusi yang berlangsung hangat menghadirkan dua narasumber perempuan yang dikenal aktif dalam advokasi isu sosial dan lingkungan, yakni Adolfina Kum dari Lepemawi Timika dan Rossy You dari Greenpeace Indonesia. Dalam pemaparannya, Adolfina menekankan bahwa pembangunan di Papua harus berpijak pada kepentingan masyarakat adat, terutama kelompok rentan seperti perempuan dan anak. Ia menilai bahwa suara mereka kerap terpinggirkan dalam proses pengambilan kebijakan.

Sementara itu, Rossy You menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian lingkungan. Ia mengingatkan bahwa hutan adat bukan hanya sumber daya ekonomi, tetapi juga bagian dari identitas dan kehidupan masyarakat Papua. Oleh karena itu, upaya menjaga kedaulatan pangan harus dilakukan tanpa mengorbankan keberlanjutan ekosistem yang ada.

Puncak acara ditandai dengan pemutaran film dokumenter Pesta Babi karya sutradara Dandhy Laksono dan Cypri Dale. Film ini menggambarkan secara mendalam perjuangan sejumlah suku di Papua Selatan—seperti Awyu, Muyu, Yei, dan Marind—dalam mempertahankan ruang hidup mereka di tengah ekspansi industri yang terus meningkat. Visual yang kuat dan narasi yang tajam membuat para penonton larut dalam realitas yang dihadapi masyarakat adat di wilayah tersebut.

Setelah pemutaran film, kegiatan dilanjutkan dengan sesi Focus Group Discussion (FGD) yang berlangsung interaktif. Para peserta aktif menyampaikan pandangan, pengalaman, serta harapan mereka terkait masa depan Papua. Diskusi ini menjadi wadah penting untuk saling bertukar perspektif dan memperkaya pemahaman kolektif.

“Diskusi seperti ini sangat penting agar kita tidak hanya menjadi penonton di tanah sendiri. Kami sangat mengapresiasi penyelenggara yang sudah menyediakan wadah bagi kami untuk belajar dan bertukar pikiran,” ujar salah satu peserta yang hadir.

Antusiasme peserta terlihat tinggi sepanjang acara. Banyak di antara mereka berharap kegiatan serupa dapat terus digelar secara berkelanjutan sebagai sarana edukasi publik sekaligus penguatan jejaring komunitas di Timika.

Melalui kegiatan ini, masyarakat diajak untuk tidak hanya memahami isu lingkungan secara pasif, tetapi juga terlibat aktif dalam menjaga kelestarian alam dan memperjuangkan hak masyarakat adat. Kolaborasi lintas komunitas yang terbangun dalam acara ini menjadi sinyal positif bahwa kesadaran kolektif mulai tumbuh di tengah masyarakat.

Dengan pendekatan yang kreatif dan partisipatif, diskusi seperti ini diharapkan mampu menjadi pemicu perubahan, sekaligus menjaga semangat untuk merawat Tanah Papua demi generasi masa depan yang lebih berkelanjutan.

More From Author

Koperasi Merah Putih Perkuat Pemerataan APBN hingga Masyarakat Bawah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *