Mengapresiasi Peran TNI, dari Evakuasi hingga Pemulihan Bencana

Oleh : Rahmat Prawira )*

Indonesia merupakan negara yang memiliki tingkat kerawanan bencana cukup tinggi, mulai dari banjir, tanah longsor, gempa bumi, hingga kebakaran hutan dan lahan. Kondisi geografis tersebut menuntut kesiapsiagaan seluruh elemen bangsa agar setiap bencana dapat direspons secara cepat dan terukur. Dalam situasi seperti itu, kehadiran Tentara Nasional Indonesia (TNI) menjadi bagian penting dari upaya negara melindungi masyarakat sekaligus mempercepat proses penanganan keadaan darurat.

Kontribusi TNI dalam penanggulangan bencana patut mendapatkan apresiasi karena keterlibatannya tidak hanya dilakukan ketika bencana terjadi. Prajurit TNI turut menjalankan berbagai tugas mulai dari evakuasi masyarakat, pencarian korban, pengamanan wilayah terdampak, pembukaan akses yang terputus, distribusi bantuan, hingga mendukung proses pemulihan. Kemampuan mobilisasi personel dan peralatan dalam waktu relatif cepat menjadi salah satu kekuatan yang dapat mendukung penanganan bencana di berbagai daerah.

Salah satu gambaran tersebut terlihat dalam penanganan banjir bandang di Kabupaten Solok, Sumatra Barat. Ratusan personel TNI dikerahkan sejak malam setelah bencana terjadi untuk membantu masyarakat terdampak. Unsur Kodim 0309/Solok dan Batalyon TP 951/PM menjalankan tugas evakuasi, pencarian warga yang belum ditemukan, serta pembukaan kembali akses transportasi yang tertutup material banjir.

Komandan Korem 032 Wirabraja Brigjen TNI Aji Mimbarno menjelaskan bahwa pengerahan personel dilakukan secara masif dan diarahkan pada kebutuhan paling mendesak di lapangan. Selain membantu evakuasi dan pencarian korban, personel TNI melakukan pembersihan material banjir berupa batu, pasir, dan lumpur yang memutus akses utama Padang-Solok. Dukungan alat berat juga dikerahkan ke kawasan permukiman yang mengalami kerusakan parah.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa kontribusi TNI dalam penanggulangan bencana memiliki cakupan yang luas. Membuka kembali jalan yang terputus, misalnya, bukan sekadar persoalan infrastruktur, melainkan bagian dari upaya mempercepat masuknya bantuan, memudahkan mobilitas tim penyelamat, serta membantu masyarakat kembali terhubung dengan wilayah lain.

Peran serupa juga terlihat dalam penanganan gempa bumi di Nusa Tenggara Timur. Ketika gempa berkekuatan 7,0 magnitudo mengguncang kawasan sekitar Maumere dan berdampak pada Pelabuhan L. Say, personel TNI Angkatan Laut segera bergerak melakukan pemantauan, pengamanan, dan penanganan darurat. Kehadiran personel menjadi penting untuk memastikan kawasan pelabuhan tetap aman sekaligus mendukung proses evakuasi masyarakat.

Komandan Lanal Maumere Kolonel Laut (P) Yoyok Ary Nugroho A.S. menjelaskan bahwa personel TNI AL berkolaborasi dengan PT Pelindo dalam menyisir area pelabuhan, mengamankan objek vital, membantu evakuasi, serta memastikan jalur logistik maritim tetap terkendali. Pemantauan juga dilakukan secara berkelanjutan untuk mengantisipasi kemungkinan gempa susulan dan menjaga keselamatan masyarakat.

Kontribusi TNI semakin terlihat dalam menghadapi bencana yang bersifat berulang seperti kebakaran hutan dan lahan. Penanganan karhutla tidak hanya dilakukan melalui operasi pemadaman, tetapi juga dengan pendekatan pencegahan. Sebanyak 1.488 personel diterjunkan sebagai penyuluh lapangan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya karhutla serta pentingnya mencegah kebakaran yang disebabkan kesengajaan maupun kelalaian.

TNI juga mendukung kesiapan infrastruktur pemadaman melalui pembangunan 316 titik sumber air berupa sumur bor di wilayah rawan kebakaran di Sumatra dan Kalimantan. Penyediaan sumber air tersebut dapat mendukung efektivitas pemadaman, terutama di lokasi yang memiliki keterbatasan akses terhadap sumber air alami.

Sementara itu, kemampuan TNI Angkatan Udara dimanfaatkan dalam penanganan karhutla melalui operasi udara. Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsekal Pertama I Nyoman Suadnyana menjelaskan bahwa pengerahan kemampuan TNI AU merupakan bentuk dukungan kepada pemerintah dalam menangani karhutla. Patroli udara dilakukan untuk menemukan titik api, kemudian ditindaklanjuti dengan pemadaman menggunakan metode water bombing.

Pelaksanaan berbagai operasi tersebut juga memperlihatkan pentingnya sinergi. TNI tidak bekerja sendiri, melainkan berkoordinasi dengan BNPB, BPBD, BMKG, pemerintah daerah, Forkopimda, serta instansi terkait lainnya. Pola kolaborasi tersebut menjadi fondasi penting agar sumber daya yang tersedia dapat digunakan secara efektif dan penanganan bencana tidak berjalan secara sektoral.

Apresiasi terhadap kontribusi TNI dalam penanggulangan bencana pada akhirnya bukan sekadar penghargaan terhadap pengerahan personel. Lebih dari itu, kontribusi tersebut menunjukkan hadirnya kapasitas negara ketika masyarakat menghadapi situasi sulit. Dari evakuasi korban, pencarian warga, pembukaan akses, pengamanan objek vital, hingga pemadaman karhutla dan edukasi pencegahan, TNI menjalankan peran yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat.

Penguatan sinergi antara TNI, pemerintah, lembaga kebencanaan, pemerintah daerah, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun ketangguhan menghadapi bencana. Dengan kesiapsiagaan, koordinasi, dan dukungan sumber daya yang semakin baik, respons terhadap bencana dapat dilakukan secara lebih cepat dan terukur. Dalam kerangka tersebut, peran dan kontribusi TNI menjadi salah satu elemen penting yang mendukung upaya pemerintah memastikan keselamatan masyarakat serta mempercepat pemulihan wilayah terdampak bencana.

)* Penulis merupakan Pengamat Kebijakan Publik

More From Author

Mengapresiasi Peran Yonif TP dalam Pertahanan dan Pembangunan Ekonomi Daerah

HUT ke-81 TNI, Mengapresiasi Kekuatan Pertahanan yang Tumbuh Bersama Rakyat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *