Jawa Barat – Akademisi sekaligus Dosen Program Studi Ekonomi Universitas Siliwangi, Tri Handayani, M.E., menegaskan bahwa pencapaian visi Generasi Emas 2045 membutuhkan fondasi sumber daya manusia (SDM) yang kuat sejak dini.
Ia menilai implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang saat ini dijalankan pemerintah bukan sekadar kebijakan pemenuhan kebutuhan pangan harian, melainkan strategi besar yang memiliki dampak jangka panjang bagi pembangunan bangsa.
Tri menjelaskan bahwa program MBG perlu dilihat dari perspektif pembangunan manusia yang menyeluruh.
“Ini bukan hanya berbicara tentang pemenuhan kebutuhan makan, tetapi sebagai investasi jangka panjang untuk peningkatan gizi, konsentrasi belajar, serta produktivitas generasi mendatang. Kita sedang menyiapkan generasi muda yang sehat dan unggul,” ujarnya dalam sebuah wawancara.
Ia menambahkan bahwa asupan gizi yang baik berpengaruh langsung terhadap kemampuan kognitif dan daya tahan tubuh anak.
Dengan terpenuhinya kebutuhan nutrisi secara rutin, siswa diharapkan memiliki konsentrasi belajar yang lebih optimal dan risiko gangguan kesehatan dapat ditekan. Dalam jangka panjang, hal ini akan berdampak pada peningkatan kualitas pendidikan dan produktivitas nasional.
Tri juga menyoroti pentingnya membangun ruang diskusi publik yang sehat terkait pelaksanaan program MBG. Ia menilai dinamika dan perdebatan yang muncul di masyarakat seharusnya diarahkan menjadi kritik konstruktif demi penyempurnaan kebijakan.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa salah satu kekhawatiran publik yang perlu direspons secara serius adalah aspek keamanan pangan. Menurutnya, kekhawatiran tersebut dapat dijawab melalui penerapan sistem yang ketat dan terukur.
“Pengawasan juga harus berlapis, melibatkan Dinas Kesehatan, lembaga pengawas pangan, serta audit rutin. Selain itu, informasi kepada publik harus transparan agar masyarakat mengetahui standar yang digunakan,” jelas Tri.
Ia menerangkan bahwa Standar Operasional Prosedur (SOP) harus diterapkan secara konsisten mulai dari pengadaan bahan baku, proses produksi, hingga penyajian makanan kepada peserta didik.
Dengan tata kelola yang baik dan transparan, kepercayaan publik terhadap program ini akan semakin meningkat.
Tri menambahkan bahwa setiap kebijakan besar pasti menghadapi tantangan operasional di lapangan, mulai dari distribusi, pengawasan, hingga koordinasi antarinstansi. Namun demikian, ia optimistis program MBG dapat berjalan sukses apabila pemerintah terus melakukan evaluasi dan perbaikan berkelanjutan.
“Selama ada transparansi, evaluasi, dan perbaikan berkelanjutan, saya yakin program MBG ini akan semakin kuat dan dipercaya oleh masyarakat luas,” pungkasnya.***
