Jakarta – Pemerintah kembali menegaskan komitmennya dalam memastikan pemenuhan gizi masyarakat tetap terjaga selama bulan suci Ramadan. Program Makan Bergizi Gratis (MBG), salah satu program prioritas nasional Presiden Prabowo Subianto, dipastikan tetap berjalan tanpa henti, dengan penyesuaian waktu dan menu agar selaras dengan pelaksanaan ibadah puasa.
Badan Gizi Nasional (BGN) memastikan kebijakan adaptif ini diterapkan untuk menjamin manfaat program tetap optimal, higienis, dan tepat sasaran. Kepala BGN Dadan Hindayana menegaskan bahwa penyesuaian dilakukan bukan untuk mengurangi kualitas layanan, melainkan sebagai bentuk kepekaan negara terhadap kebutuhan masyarakat di bulan Ramadan.
“Untuk penerima manfaat yang berpuasa, menu makanan basah kita sesuaikan menjadi makanan kering agar aman dikonsumsi saat berbuka. Contohnya kurma, telur rebus, telur asin atau pindang, buah, susu, dan abon,” ujar Dadan Hindayana di Jakarta.
Selain penyesuaian menu, waktu distribusi MBG juga diatur secara fleksibel. Untuk anak sekolah di wilayah dengan mayoritas penduduk berpuasa, makanan dibagikan pada siang hari untuk dibawa pulang dan dikonsumsi saat berbuka. Skema ini dinilai sebagai solusi efektif yang tetap menjaga keberlanjutan asupan gizi peserta didik tanpa mengganggu kegiatan belajar maupun ibadah.
“Anak-anak tetap menerima hak gizinya. Makanannya dibawa pulang untuk menu berbuka, ini bentuk pelayanan yang adaptif dan berpihak pada masyarakat,” jelas Dadan.
Sementara itu, bagi penerima manfaat di pondok pesantren, MBG tetap diberikan dengan menu normal. Penyesuaian hanya dilakukan pada waktu pembagian yang digeser ke sore hari menjelang berbuka puasa. Adapun ibu hamil, ibu menyusui, balita, serta kelompok masyarakat yang tidak menjalankan puasa tetap menerima MBG dengan menu dan jadwal normal, menunjukkan bahwa negara hadir melayani seluruh lapisan masyarakat tanpa pengecualian.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengungkapkan bahwa hingga akhir Januari 2026, jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG telah mencapai 22.091 unit di seluruh Indonesia, dengan total penerima manfaat lebih dari 60 juta orang.
“Ini capaian besar. Lebih dari 60 juta masyarakat sudah merasakan langsung manfaat program MBG,” ujar Zulkifli Hasan.
Ia menambahkan, cakupan MBG di sekolah-sekolah yang telah memiliki SPPG rata-rata telah mencapai di atas 90 persen. Pemerintah juga terus memperkuat koordinasi lintas kementerian untuk memperluas jangkauan program, termasuk di lingkungan pesantren.
Ke depan, pemerintah akan melakukan evaluasi berkelanjutan terhadap dampak MBG melalui pengukuran pertumbuhan fisik dan perkembangan anak. Langkah ini menegaskan bahwa MBG tidak sekadar program bantuan, melainkan investasi strategis jangka panjang untuk membangun generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan berdaya saing.
