Akademisi Ajak Masyarakat Bijak Menyikapi Informasi Pangan Berbasis Data

Bekasi – Ketahanan pangan merupakan salah satu pilar penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional dan kesejahteraan masyarakat. Dalam konteks tersebut, berbagai informasi mengenai kondisi pangan nasional perlu dipahami secara objektif, berdasarkan data dan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dosen Program Studi Manajemen Universitas Pelita Bangsa, Cikarang, Jawa Barat, Sesri Sellina menyampaikan bahwa kondisi pangan nasional hingga Juni 2026 berada dalam kondisi yang relatif aman dan terkendali berdasarkan data resmi Badan Pangan Nasional (Bapanas).

Menurut data Bapanas, sejumlah komoditas strategis nasional saat ini berada dalam kondisi surplus. Beras tercatat surplus sekitar 15,8 juta ton, jagung 4,7 juta ton, gula konsumsi 797 ribu ton, cabai besar 87 ribu ton, cabai rawit 61 ribu ton, daging ayam 950 ribu ton, telur ayam 517 ribu ton, serta bawang merah 53 ribu ton. Selain itu, Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang telah melampaui 4 juta ton semakin memperkuat ketahanan pangan nasional.

“Pemerintah bersama berbagai pemangku kepentingan terus melakukan langkah strategis untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pangan masyarakat. Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), Gerakan Pangan Murah (GPM), penguatan distribusi antarwilayah, serta optimalisasi cadangan pangan terbukti menjadi instrumen penting dalam menjaga keterjangkauan harga,” ujar Sellina.

Ia menegaskan bahwa secara akademik, kondisi pangan harus dipahami secara objektif dan berbasis data. Fluktuasi harga yang terjadi pada periode tertentu merupakan fenomena yang lazim terjadi dan tidak dapat langsung disimpulkan sebagai krisis pangan.

“Perlu dibedakan antara fluktuasi harga musiman dengan kondisi krisis pangan. Masyarakat perlu melihat informasi secara utuh dan berdasarkan data yang valid sehingga tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang dapat menimbulkan kepanikan,” tambahnya.

Sebagai bagian dari kalangan akademisi, Sellina mengajak masyarakat untuk meningkatkan literasi informasi, khususnya terkait isu pangan. Masyarakat diharapkan lebih selektif dalam menerima dan menyebarkan informasi serta mengutamakan sumber-sumber resmi dan kredibel.

“Dukungan seluruh elemen masyarakat sangat diperlukan dalam menjaga stabilitas harga dan pasokan pangan. Ketahanan pangan yang kuat akan menjadi fondasi penting bagi terwujudnya kesejahteraan masyarakat yang berkelanjutan,” tutupnya.

Melalui sinergi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat, upaya menjaga ketahanan pangan nasional diharapkan dapat terus diperkuat demi mendukung pembangunan nasional yang berkelanjutan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia.

More From Author

Insentif dan Program Belanja Nasional Perkuat UMKM dan Pelaku Ritel di Musim Liburan

Jangan Biarkan Provokasi Mengaburkan Agenda Pemulihan Ekonomi  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *