Hilirisasi Nikel Jadi Modal Besar Perdagangan Indonesia Hadapi Pasar Global

Jakarta – Di tengah persaingan industri dan perdagangan global, hilirisasi nikel menjadi modal strategis Indonesia untuk memperkuat posisi tawar di pasar internasional. Kebijakan pengolahan mineral di dalam negeri mendorong perubahan dari eksportir bijih mentah menjadi produsen utama nikel olahan dunia.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai hilirisasi telah mengubah posisi Indonesia dalam peta industri nikel global. Pangsa produksi nikel olahan nasional meningkat dari sekitar 1 persen menjadi 41 persen dari total produksi dunia, sekaligus menggeser China sebagai produsen terbesar.

“Indonesia juga telah berubah dari pengekspor bijih menjadi pusat produksi olahan,” kata Yusuf.

Menurutnya, dominasi produksi tersebut memberikan modal tawar besar bagi Indonesia dalam menghadapi dinamika pasar global. Pengaturan pasokan melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) dapat menjadi instrumen untuk menjaga keseimbangan produksi, kebutuhan industri, dan harga nikel. Namun, kebijakan tersebut perlu mempertimbangkan ketersediaan bahan baku bagi smelter agar kapasitas pengolahan nasional tetap terjaga.

Analis Senior Indonesia Strategic and Economics Action Institution, Ronny P. Sasmita, menilai hilirisasi telah menghasilkan transformasi struktural pada industri nasional. Produksi nikel olahan Indonesia meningkat lebih dari 60 kali lipat, dari sekitar 22 ribu ton pada 2014 menjadi lebih dari 1,4 juta ton pada 2023.

“Jadi, kalau parameternya adalah kemampuan mengubah bijih menjadi produk olahan di dalam negeri, hilirisasi jelas menghasilkan transformasi struktural,” ujar Ronny.

Ia juga mencatat investasi hilirisasi mencapai Rp300,1 atau sekitar 29,7 persen dari total investasi nasional. Investasi tersebut memperkuat kapasitas industri, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan nilai ekspor, dan memperdalam basis manufaktur. Dengan demikian, Indonesia memiliki bekal lebih kuat untuk memasuki rantai perdagangan produk olahan bernilai tinggi.

Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menegaskan pentingnya pengelolaan pasokan untuk memperkuat posisi komoditas nasional di pasar internasional.

“Harga nikel sekarang mulai tidak lagi dipermainkan secara leluasa oleh oknum-oknum tertentu. Inilah sebenarnya tujuan kita,” kata Bahlil.

Melalui hilirisasi dan tata kelola produksi, pemerintah memperkuat fondasi perdagangan yang tidak hanya mengandalkan ekspor bahan mentah. Langkah ini menjadi modal Indonesia menghadapi persaingan global dan meningkatkan posisi sebagai kekuatan industri yang diperhitungkan.

More From Author

Hilirisasi Nikel Perkuat Posisi Indonesia dalam Rantai Pasok Global

Hindari Provokasi Demo, RUU Ketenagakerjaan Akomodasi Aspirasi Buruh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *