Kutuk Penyanderaan Anak Perempuan di Jila, Ketua LMA Suku Amungme: Memancing Perpecahan Antar Suku Pegunungan

MIMIKA — Ketua Lembaga Masyarakat Adat Suku Amungme (LEMASA), Menuel John Magai, mengutuk penyanderaan terhadap sembilan gadis di Distrik Jila, Kabupaten Mimika, Papua Tengah. Ia menilai tindakan kelompok bersenjata yang mengatasnamakan TPNPB-OPM Kodap III Ndugama tersebut telah melewati batas kemanusiaan dan berpotensi memancing perpecahan antarsuku di wilayah pegunungan Papua.

Dugaan penyanderaan itu terjadi setelah kelompok bersenjata melakukan serangan terhadap pos TNI di Kampung Jila, Distrik Jila, pada 17 Agustus. Sebelum aksi penyanderaan, kelompok tersebut juga dilaporkan melakukan kekerasan terhadap warga sipil.

Seorang ibu disebut meninggal setelah berusaha menghalangi anaknya dibawa kelompok bersenjata. Sementara seorang ibu lainnya dilaporkan mengalami kekerasan hingga dilempar ke jurang.

Hingga kini, keberadaan sembilan gadis yang diduga disandera tersebut belum diketahui. Kondisi itu menimbulkan keresahan di tengah masyarakat dan mendorong tokoh adat meminta kelompok bersenjata segera membebaskan seluruh korban.

“Penyanderaan terhadap sembilan anak Perempuan Suku Amungme di Jila telah melewati batas toleransi masyarakat adat. Ini bukan lagi sekadar persoalan konflik bersenjata, tetapi ancaman langsung terhadap masyarakat sipil, khususnya perempuan dan anak-anak,” kata Menuel.

Ia juga menyoroti informasi warga yang mendengar logat para pelaku diduga berasal dari wilayah Nduga. Namun, Menuel mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan informasi tersebut sebagai alasan untuk membangun konflik antarsuku.

“Pelaku merupakan Kodap III Ndugama yang mana berasal dari wilayah Nduga dan sesama asal suku Pegunungan. Masyarakat Nduga adalah saudara kami. Yang kami tolak adalah tindakan kekerasan dan kelompok bersenjata yang merusak persaudaraan masyarakat pegunungan,” ujarnya.

Menurut Menuel, aksi kekerasan terhadap warga sipil justru membuat kelompok bersenjata semakin kehilangan legitimasi sosial. Ia menegaskan masyarakat adat Amungme tidak ingin wilayah mereka dijadikan tempat persembunyian, perekrutan, intimidasi, maupun aktivitas kekerasan.

LMA Suku Amungme, lanjut dia, memberikan waktu 2×24 jam agar sembilan gadis tersebut segera dibebaskan tanpa syarat dan dikembalikan kepada keluarga dalam keadaan selamat.

“Jangan biarkan tragedi Jila memecah persaudaraan Amungme, Nduga, Dani, Damal, Mee, dan suku-suku pegunungan lainnya. Masyarakat membutuhkan keamanan, pendidikan, pekerjaan, dan masa depan, bukan kekerasan,” tegasnya.

Menuel menyerukan masyarakat pegunungan tetap bersatu serta menyerahkan penanganan kasus kepada aparat berwenang melalui proses hukum yang sah. Ia menegaskan perjuangan apa pun tidak dapat dijadikan pembenaran untuk menyandera, membunuh, atau melakukan kekerasan terhadap warga sipil.

More From Author

LMA Suku Amungme Ultimatum OPM: Lepaskan 9 Sandera di Jila atau Kami Perangi!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *